Mendorong Transisi Energi Hijau Melalui Momentum Presidensi G20

[adace-ad id="255"]

Rumor peralihan cuaca dipandang seperti hantu yang mengerikan dan mengambil alih perhatian beberapa negara di dunia. Kepresidenan G20 yang dikerjakan Indonesia menjadi katalisator untuk menggerakkan beragam peraturan peralihan energi hijau.

Pahara Nugraha Mashri, Wakil Menteri Badan Usaha Punya Negara, menjelaskan Indonesia ada pada status vital di G20 tahun ini untuk meningkatkan beragam peraturan mitigasi imbas negatif peralihan cuaca. “Peralihan ke energi terus-menerus tidak dapat dijauhi. Nyaris tiap negara sudah mengawali peralihan ke energi hijau dengan kurangi energi fosil dengan bertahap.”

Usaha global turunkan emisi karbon untuk jaga temperatur global di bawah 1,5 derajat Celcius sebagai kesempatan untuk Indonesia untuk meningkatkan energi baru terbarukan, terhitung bidang keuangan. Menurut dia, peralihan energi harus terus dilaksanakan, walau banyak rintangan yang perlu ditemui.

[adace-ad id="255"]

Kementerian Badan Usaha Punya Negara memberikan dukungan Gagasan Usaha Pengadaan Tenaga Listrik Lebih Ramah Lingkungan (RUPTL). “Dalam RUPTL 2021-2030, prosentase listrik yang memakai energi terbarukan ialah 51,57 % atau 20.923 megawatt,” katanya.

✅ RECOMMENDED:  8 Cara Kreatif Berinovasi untuk Buka Usaha

Roadmap Peralihan Energi Indonesia terhitung dalam Taktik Besar Energi Nasional. Roadmap itu menarget gabungan energi baru terbarukan capai 23% di tahun 2025 dan 31% di tahun 2050.

diharapkan jika energi bersih yang dipakai ialah energi lokal. Ini mempunyai tujuan untuk pastikan swasembada energi negara.

Panas bumi sebagai salah satunya sumber energi terbarukan di Indonesia, kata Pahara. Peluang ini bukan hanya tingkatkan kualitas udara Indonesia dan menolong perolehan sasaran pengurangan emisi karbon, tapi juga memberi kesempatan usaha yang memberikan keuntungan untuk Indonesia.

[adace-ad id="255"]

Panas bumi bisa menjadi energi terbarukan yang sisi paling besarnya diperkembangkan oleh pemerintahan. “Kami akan meningkatkan panas bumi (geothermal) yang ambil keuntungan dari panas bumi. Sasaran pengurangan emisi dari BUMN 85 juta ton karbon dioksida,” ucapnya.

✅ RECOMMENDED:  Inilah Beberapa Resiko Investasi Saham Wajib Kalian Tahu

Energi panas bumi sebagai unggulan Indonesia dan bisa dipakai sebagai beban dasar. Berikut kemampuan dasar untuk penuhi keperluan customer. Ongkos pengadaan energi ini tambah murah dibanding tipe energi terbarukan yang lain, sekitaran 7,6-8 sen AS per kWh.

“Bandingkan dengan battery dari energi matahari yang 12 sen AS per kWh,” kata Pahala.

Kesempatan peningkatan energi panas bumi masih lebar terbuka. Menurutnya, panas bumi dapat tekan import Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri yang di range 1,dua juta barel setiap hari. Sekarang ini, cuman 9% dari daerah itu yang hasilkan kemampuan panas bumi 1.900 MW.

✅ RECOMMENDED:  Peduli Kesehatan, Produk Makanan Harus dengan Gula Rendah Kalori

“Masih tetap ada kekuatan 19 gigawatt. Kami menggerakkan Pertamina Geothermal Energy (PGE) untuk meningkatkan teritori panas bumi,” katanya.

Disamping itu, kesempatan export di luar negeri perlu diamankan dengan berhati-hati. Misalkan, Kewenangan Pasar Energi Singapura (EMA) sudah umumkan penganekaragaman sumber listrik dengan pembangkit energi terbarukan non-intermiten sampai 4 gigawatt di tahun 2035.

Karena itu, dibutuhkan dampak sinergis yang kuat di antara PNRE (Ketenagalistrikan dan Energi Baru Terbarukan), PGE, dan PLN (Perusahaan Listrik Negara) untuk menyiapkan keperluan energi hijau lokal dan tangkap kesempatan export dengan sumber daya yang berlimpah. itu,” kata Pahala…

Originally posted 2022-02-05 02:19:05.

[adace-ad id="255"]

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.