Inilah Beberapa Resiko Investasi Saham Wajib Kalian Tahu

Advertisement

Beberapa Risiko Investasi Saham Wajib Kalian Tahu – Popularitas saham sebagai instrumen investasi akhir-akhir ini semakin meningkat. Salah satu buktinya, jumlah investor saham pada 2019 mencapai 1,1 juta orang atau meningkat 30% dibandingkan 852.000 orang pada 2018.

Saham kerap dianggap sebagai instrumen investasi yang bisa menghasilkan return yang relatif tinggi. “Cuan” dari investasi saham seringkali membuat orang tergiur untuk mulai menjadi investor saham.

Namun, seperti halnya berinvestasi pada umumnya, potensi keuntungan yang tinggi dari investasi saham juga dibarengi dengan risiko yang tinggi. Karena itulah investasi saham sering disebut sebagai instrumen high risk high return. Risiko Investasi Saham ini adalah sesuatu yang melekat atau tidak dapat dipisahkan dari kegiatan investasi saham. Rencana investasi seharusnya tidak hanya memikirkan manfaat, tetapi juga risiko yang menyertainya.

Advertisement

 

Risiko investasi saham tentu menjadi hal yang penting bagi para investor, terutama para pemula. Hal ini dilakukan agar proses investasi dapat berjalan dengan lancar dan mencapai tujuan investasi yang diinginkan. Ia juga tahu apa yang harus dilakukan jika Anda berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan.

Saham merupakan salah satu instrumen investasi yang dapat dipilih karena mampu memberikan keuntungan atau return yang tinggi. Oleh karena itu, dapat menjadi pilihan yang tepat untuk memenuhi tujuan jangka panjang. Namun perlu pemahaman terkait agar tidak terjebak dalam euforia kondisi seperti terburu-buru menjual saham jika harga cenderung tinggi atau sebaliknya. Berikut ini adalah beberapa risiko investasi saham:

1. Capital Loss

Ini adalah risiko investasi saham yang sangat mungkin dialami investor. Sebagai instrumen investasi yang harganya dapat bergerak setiap hari, seorang investor dapat mengalami kerugian modal bahkan pada hari pertama ia berinvestasi.

Kerugian modal (capital loss) adalah suatu kondisi dimana harga jual suatu saham lebih rendah dari harga belinya. Capital loss adalah kebalikan dari capital gain (capital gain) dimana harga jual lebih tinggi dari harga beli. Salah satu prinsip untuk mendapatkan keuntungan dalam berinvestasi di saham adalah membeli saham dengan harga lebih rendah dan menjualnya dengan harga lebih tinggi. Jika sebaliknya terjadi, investor akan mengalami kerugian (capital loss).

Advertisement

Misalnya, seorang investor membeli sebuah saham XYZ dengan harga Rp. 3.000 per saham. Beberapa waktu kemudian, harga saham XYZ turun menjadi Rp. 2.000 per saham. Penurunan harga saham tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Ketika investor saham akhirnya menjual saham XYZ dengan harga Rp. 2.000 per saham, ia menderita kerugian. Kerugian ini disebut kerugian modal.

2. Suspensi

Suspensi adalah penghentian perdagangan saham karena beberapa faktor. Ketika suatu saham ditangguhkan, investor saham tidak dapat melakukan transaksi dengan saham yang ditangguhkan tersebut. Suspensi saham bisa berlaku selama beberapa hari, tetapi juga bisa berlaku selama beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun. Ketika saham ditangguhkan, bursa akan merilis pengumuman yang akan diposting di situs resminya.

Penangguhan tersebut, menurut bursa, dilakukan dengan tujuan memberikan waktu yang cukup bagi para pelaku pasar untuk mempertimbangkan secara matang berdasarkan informasi yang tersedia dalam setiap keputusan investasinya pada saham-saham tertentu. Risiko investasi saham dalam bentuk suspensi jarang dialami oleh perusahaan dengan kapitalisasi pasar jumbo.

 

3. Likuidasi

Risiko investasi saham ini terjadi ketika perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh investor saham dinyatakan pailit oleh pengadilan atau dibubarkan. Dalam kondisi ini, pemegang saham adalah pihak yang mendapatkan sebuah “giliran” terakhir untuk mendapatkan haknya setelah perusahaan memenuhi kewajibannya kepada pihak lain seperti kreditur.

Secara teori, pemegang saham akan mendapatkan sisa aset yang dimiliki perusahaan setelah perusahaan menyelesaikan kewajibannya. Namun, jika tidak ada sisa saldo, pemegang saham tidak akan menerima hasil likuidasi.

Untuk menghindari risiko dalam investasi saham ini, investor harus memantau perkembangan perusahaan secara berkala. Perusahaan yang mengalami sebuah masalah yang berpotensi bangkrut biasanya mendapat perhatian luas dari berbagai pihak seperti bursa hingga media massa.

 

4. Risiko negara

Jenis risiko investasi berikutnya adalah risiko nasional atau politik. Risiko ini terkait erat dengan aktivitas nasional dan urusan politik. Hal ini juga terkait dengan perubahan undang-undang yang mempengaruhi perekonomian negara.

Risiko ini bukan tidak mungkin berdampak pada kerugian investor akibat perubahan ketentuan perundang-undangan. Oleh karena itu, jika orang asing ingin berinvestasi di negara lain, penting untuk melihat situasi politik di negara tersebut.

 

5. Risiko suku bunga

Jenis risiko investasi yang kelima adalah risiko suku bunga. Kenaikan suku bunga bertanggung jawab atas penurunan nilai relatif aset berbunga seperti obligasi dan pinjaman. Suku bunga naik, tetapi pengembalian investasi dan nilai obligasi berbunga turun, dan sebaliknya.

 

6. Risiko inflasi

Jenis risiko investasi yang keenam adalah risiko inflasi atau risiko daya beli. Risiko dari investasi ekuitas ini adalah inflasi mempengaruhi daya beli, dan akibatnya, nilai tunai dari investasi saat ini menjadi kurang berharga di masa depan. Hal ini juga dapat menurunkan daya beli masyarakat karena harga rata-rata naik di atas harga konsumen.

Ketika seseorang memiliki dan berinvestasi dalam bentuk tunai atau aset, biasanya ada risiko inflasi. Inflasi mengikis nilai uang dan aset yang mereka miliki. Misalnya, jika seorang investor memiliki dana investasi tunai sebesar Rp 20 juta dengan tingkat inflasi 5%, dana tersebut akan berkurang sebesar Rp 1 juta per tahun.

 

7. Risiko valas

Jenis risiko investasi yang ketujuh adalah risiko forex atau forex risk. Risiko investasi jangka pendek ini erat kaitannya dengan fluktuasi nilai tukar mata uang suatu negara dan nilai tukar mata uang negara lain.

Risiko ini disebut juga risiko mata uang asing, disebabkan oleh fluktuasi nilai tukar mata uang asing di pasar dan tidak sesuai dengan ekspektasi jika dikonversikan ke rupiah.

 

8. Risiko investasi ulang

Jenis risiko investasi yang terakhir adalah risiko reinvestasi. Jenis risiko ini muncul ketika pendapatan dari aset investasi mengharuskan investor untuk menginvestasikan kembali aset tersebut. Dalam kebanyakan kasus, arus kas investasi menghasilkan keuntungan yang lebih kecil setelah diinvestasikan kembali dalam produk investasi baru.

 

Itulah beberapa jenis Risiko Investasi Saham yang wajib untuk Anda ketahui. Semoga bermanfaat.

. Risiko Investasi Saham

 

Advertisement

✅ RECOMMENDED:  Mendorong Transisi Energi Hijau Melalui Momentum Presidensi G20

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.